Broker Properti Tak Lekang Dimakan Krisis

0
6
Erlan Kallo, Pemimpin Redaksi

KonsPro (13/9) Selain bisnis restaurant (rumah makan), bisnis jasa broker properti terbukti paling imun terhadap segala konsidi ekonomi, bahkan krisis sekalipun profesi ini terus “berkibar”.

Kalau dahulu persepsi sebagian orang terhadap broker properti adalah profesi “sampingan” untuk pendapatan tambahan, maka sejak 10 tahun akhir ini tidak sedikit orang yang menjadikan broker properti sebagai profesi utama yang bergengsi. Profesi ini pun telah “melahirkan” banyak miliader dengan penghasilan tak terbatas.

Profesi pemasar properti sangat terbuka bagi semua kalangan, bahkan orang yang belum punya pengalaman di bidang bisnis properti sekalipun, dapat belajar dan sukses dengan cepat. Karena yang paling dibutuhkan motivasi tinggi, konsistensi dan fokus. Setiap orang dapat belajar sambil terjun langsung di lapangan alias learning by doing.

Meski begitu, untuk menjadi profesional, seorang broker properti juga memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang kinerjanya. Hal tersebut antara lain fisik dan mental yang prima karena tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Selain melelahkan secara fisik, beberapa persoalan yang timbul di lapangan juga kerap menguras emosi dan pikiran seorang broker. Kondisi ini sebenarnya tidak masalah bagi orang tipikal yang senang dengan tantangan.

Tren selalu meningkat

Dibanding profesi pemasar lain, menjadi broker properti bisa dibilang jauh lebih mudah. Berbeda dengan agen asuransi yang barang dagangannya berupa produk abstrak, seorang broker properti mempunyai produk yang lebih nyata. Dalam menjual mereka juga dibekali dengan foto-foto, data-data, dan lokasi rumah yang dipasarkan. Tak perlu banyak bicara untuk meyakinkan calon pembeli. Asal barang dan harganya cocok, transaksi penjualan tinggal menunggu waktu. Apalagi kalau kelengkapan legalitasnya, seperti sertifikat hak milik (SHM) sudah komplit semua.

Besarnya komisi yang diterima seorang broker dihitung berdasarkan persentase tertentu dari nilai transaksi. Jadi, besar-kecilnya jumlah komisi tergantung harga penjualan. Karena setiap broker ingin menerima komisi besar, secara otomatis mereka akan berusaha menjual properti yang dititipkan kepadanya dengan harga setinggi mungkin. Kalau properti laku dengan harga tinggi, bukankah sang pemilik juga diuntungkan?

Tugasnya menjualkan barang milik seseorang kepada orang lain yang membutuhkan. Jadi, mempertemukan antara penjual dan pembeli suatu barang. Perbedaan lain, makelar atau calo bekerja sendiri tanpa terikat di suatu organisasi atau perusahaan, sementara broker properti umumnya berada di bawah sebuah bendera resmi misalnya CENTURY 21 INDONESIA.

Gencarnya pembangunan perumahan, perkantoran, apartemen, dan pusat-pusat perbelanjaan di banyak kota membuat masa depan profesi broker properti terbilang cerah. Apalagi dari sekian banyak dan luasnya pasar properti selama ini, yang berhasil ditangani oleh broker properti –baik broker profesional maupun amatir (calo/makelar)– baru sekitar 20% saja. Ini artinya, pasar bisnis broker properti masih sangat prospektif.

Menyinggung soal peluang penghasilan, profesi broker properti menawarkan peluang penghasilan yang amat besar. Inilah daya tarik utama bagi siapa saja yang ingin terjun ke dunia ini. Bukan hanya kalangan pengangguran yang kesulitan memperoleh pekerjaan, bahkan kalangan profesional yang sudah mapan pun masih banyak yang melirik profesi ini. Akibatnya, banyak terjadi ’eksodus’ dari profesi pegawai kantoran ke profesi broker properti.

Untuk meningkatkan penghasilan, seorang broker properti dapat menjadi member broker yang membawahi banyak broker properti lain dengan cara membeli lisensi waralaba sebuah perusahaan jasa broker properti. Syaratnya, selain beberapa persyaratan administratif seperti ketersediaan tempat usaha, seorang member broker diharuskan membayar fee waralaba dalam jumlah tertentu setiap tahun. Beberapa perusahaan terkadang juga menambahkan kewajiban membayar royalti sebesar beberapa persen dari total omset yang diperoleh member broker tersebut. Sepintas, modal untuk menjadi member broker terlihat begitu besar. Tapi ini sepadan kok dengan penghasilannya yang jauh lebih besar lagi. (Penulis: Erlan Kallo, Pemerhati Rumah Susun. Dihimpun dari berbagai Sumber)