Harga Properti 2011 Diproyeksikan Naik 20%

0
19
Ilustrasi

KonsPro (13/4) JAKARTA – PERTUMBUHAN  kredit properti pada tahun ini diproyeksikan naik 15%-18%, sementara harga tanah diperkirakan naik 10%-15% dan harga properti  (7%-20%) seiring dengan membaiknya perekonomian nasional.

“Investasi di sektor properti menjadi sarana nomor satu untuk membangun kekayaan di Indonesia. Sebagian besar kekayaan dari hampir 90% rumah tangga berasal dari sektor properti, bukan saham atau obligasi,” kata Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), Panangiang Simanungkalit kepada Bisnis, awal pekan ini.

Walaupun demikian, dia mengungkapkan berinvestasi di sektor properti harus memiliki setidaknya empat hal, yakni pembiayaan yang cerdas, waktu yang tepat, lokasi yang tepat hingga pengembang yang tepat.

Pengembang yang tepat, paparnya, harus dipilih perusahaan yang berpengalaman dan memiliki reputasi baik. Adapun terkait dengan penentuan lokasi, Panangiang menuturkan, konsumen sebaiknya memperhatikan jumlah orang masuk dan yang keluar, aksesibilitas menuju pusat kota hingga lokasi yang berdekatan dengan pusat pertumbuhan.

Selain itu, sambungnya, yang harus dipilih adalah jenis properti yang tengah mencuat pembangunannya dalam industri. “Saat ini risiko berinvestasi di sektor properti adalah yang paling rendah dibandingkan dengan surat hutang, deposito atau saham. Rumus umum di sektor ini adalah hasil yang tinggi namun rendah di risiko,” ujarnya.

Meski demikian, investasi di sektor properti bukan tanpa risiko. Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) untuk konsumsi kredit pemilikan rumah (KPR) hingga apartemen tipe 70 mengalami kenaikan menjadi Rp2,120 triliun pada akhir tahun lalu, dari Rp1,631 triliun pada 2009.

Meski demikian, NPL kredit konsumsi KPR dan apartemen di atas tipe 70 justru menurun menjadi Rp848 miliar pada 2010, dari sebelumnya Rp1,301 triliun pada 2009.

Sementara itu untuk kredit konsumsi rumah toko dan rumah toko, NPL turun menjadi Rp174 miliar pada 2010 dari sebelumnya Rp207 miliar pada 2009.

Data statistik bank sentral itu juga menyatakan terjadi kenaikan yang cukup besar pada NPL kredit modal kerja di sektor properti yakni Rp1,142 triliun pada akhir tahun lalu dibandingkan dengan periode 2009 sebesar Rp264 miliar.

Peneliti dari Aspirasi Indonesia Research Institute (Air Inti) Yanuar Rizky mengatakan kenaikan NPL antara lain disebabkan oleh membesarnya kredit konsumsi, modal kerja maupun investasi.

Selain itu, sambungnya, persoalan suku bunga dari perbankan baik untuk modal kerja, investasi hingga konsumsi juga menyebabkan hal itu terjadi.

Dia mencontohkan pengembang yang meminjam uang dari perbankan akan memperoleh bunga kredit di atas 13%-14% terkait dengan pembangunan produk properti. Yanuar menuturkan, kredit modal kerja dan investasi sifatnya jangka panjang.

Sementara pihak konsumen, sambungnya, juga meminjam dana dari perbankan untuk KPK dengan kisaran bunga 8%-9%. “Hal inilah yang menyebabkan missmatch, dan membuat persentase NPL di sektor properti meningkat,” ujar Yanuar kepada di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan pembelian properti juga diperkirakan lebih banyak digunakan untuk keperluan investasi, dan bukan tempat tinggal. Menurut dia, hal itu wajar saja saat melihat bunga yang ditawarkan oleh perbankan lebih rendah dibandingkan saat investor membeli produk properti. (bisnis.com)