Polemik RUU Rusun Terus Bergulir

0
8

KonsPro (18/02) JAKARTA – RUU tentang Rumah Susun yang sedang dimatangkan pemerintah dan DPR mulai menuai polemik. Setelah memicu resistensi dari para praktisi dan pemerhati perumahan, kini giliran pengembang buka suara.

Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria kepada Bisnis mengatakan telaah kritis atas RUU Rusun tak dilakukan pada porsi yang tepat karena para kritikus dinilai kurang memahami substansi masalah terutama yang berkaitan dengan definisi rumah susun.

REI, jelasnya, juga menolak anggapan pembahasan RUU Rusun mengubah substansi UU No. 16/1985 tentang Rusun sehingga pokok pembahasan dituding kian melebar.

“Substansi mana yang berubah? Kalau definisi rusun yang berubah bisa dibenarkan karena zaman juga berubah. Definisi rusun tak cukup sekadar hunian bertingkat bagi masyarakat berpenghasilan rendah tapi juga menyangkut apartemen, kondominium, mal hingga perkantoran,” jelasnya, hari ini.

Dengan meningkatnya kebutuhan bangunan bertingkat di kota-kota besar, lanjutnya, DPR mengambil inisiatif menggulirkan pembaruan atas UU No. 16/1985 tentang Rusun karena dinilai telah kedaluwarsa.

“UU lama tak mengakomodasi model hunian bertingkat yang sudah berkembang. Karena itu, kami mendukung sepenuhnya pembahasan RUU Rusun,” kata Teguh.

Sebelumnya, Ketua Umum Aperssi (Asosiasi Penghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia) Ibnu Tadji mengkritik pembahasan RUU Rusun hanya mempertajam masalah kepemilikan orang asing dan menjamin keuntungan pengembang.

Dengan alasan itu, dia menduga ada peran pihak tertentu yang hanya melihat masalah rusun dari satu sudut kepentingan ekonomi. (bisnis.com)